SASTRA PEDAS: SEBUAH EKSPERIMEN KATA DI DAPUR SANTRI

Di sebuah pesantren sederhana di desa Klotok, ada seorang santri bernama Mamat, yang lebih dikenal sebagai Memet. Di Bulan Bahasa ini, Memet memutuskan bahwa karya terbaik bukanlah yang ditulis di buku, melainkan yang dipentaskan di kehidupan nyata. Misinya: menyiksa setan menggunakan kaidah bahasa dan ritual.

Pada malam itu, Memet menyiapkan pementasan utamanya: sambal terong (terong bakar dengan sambal terasi mematikan) ditemani air rendaman intip sebagai penawar.

“Ayo… Ayo,” ajak Memet penuh semangat. Acil, Bagus, dan Putra segera datang, membawa nampan, siap untuk makan talaman (makan bersama).

Mereka duduk melingkar, aroma pedas sambal mulai menusuk hidung. Namun, saat hendak menyuap, Memet menghentikan mereka, memasang wajah serius.

“Syarat pertama pementasan ini: JANGAN ADA BISMILLAH,” kata Memet tegas.

Teman-temannya terheran. “Serius ini? Maksudnya apa, Met?” tanya Bagus.

Memet, layaknya seorang filsuf sastra, menjelaskan: “Makanan ini, kalau dibacai kata suci, setan enggak bisa ikut makan. Makanya jangan dibacakan. Kita harus ekspresif dalam mengundang! Biar ia ikut makan karya pedas kita.”

Acil menyahut sambil tertawa kecil, “Paham. Ini pementasan anti-mantra. Pokoknya jangan baca bismillah. Awas kalau baca, enggak boleh makan!”

Pesta sambal terong pun dimulai. Semua melahap dengan lahap, terbuai oleh rasa gurih sebelum kepedasan menghantam. Tak lama, semua wajah memerah, bibir monyong-monyong tak karuan. Sambal Memet adalah karya pedas yang luar biasa menyakitkan.

“Jangan khawatir!” seru Memet, meraih botol air besar. “Aku sudah siapkan penawarnya!”

Teman-temannya langsung berebut. Tetapi, lagi-lagi, Memet menahan, mengangkat tangan seperti sedang memberi komando.

“Tunggu! Babak kedua: Syaratnya Berubah!”

Memet memasang wajah lebih serius dari sebelumnya. “Kali ini, sebelum minum, HARUS BACA BISMILLAH! Harus! Kalau enggak baca, enggak boleh minum!”

Semua temannya melongo. Peraturan tiba-tiba berbalik 180 derajat.

Memet lantas tersenyum puas, membeberkan makna di balik karya food-art sekaligus drama keagamaannya. “Begini. Kalau air ini dibacakan kata suci, setan enggak bisa ikut minum. Biar setan yang kepedasan tadi itu, yang sudah capek-capek ikut makan tanpa permisi, tahu rasa! Dia enggak bisa minum penawarnya. Gitu aja kok bingung!”

Ruangan itu pun pecah oleh tawa. Para santri di desa Klotok merayakan Bulan Bahasa dengan ekspresi diri melalui kata—yang mampu mengubah makanan menjadi senjata, dan aturan menjadi tawa kemenangan. Mereka membuktikan: kekuatan kata tak hanya mengubah makna, tapi juga mengubah nasib setan yang sedang kepedasan.

penulis:

Siti Aisyah, S.Pd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *