PENYULUH AGAMA ISLAM KUA KECAMATAN PLUMPANG BEKALI SISWA DAN SISWI MA AL QUDSIYAH HADAPI TANTANGAN ZAMAN DAN BAHAYA NARKOBA

Klotok – Upaya membentengi generasi muda dari tantangan zaman terus digalakkan. Melalui kolaborasi strategis, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Plumpang menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang bertempat di MA Al Qudsiyah. Acara yang dibuka oleh Bapak Sugeng Widodo ini menekankan tiga fokus utama: membentengi remaja dari pergaulan bebas, membantu perancangan masa depan, serta mengukuhkan bekal mental sebagai fondasi penentu arah bangsa.

Sejalan dengan visi tersebut, Bapak Moh. Ansor selaku pemateri utama memaparkan urgensi program ini berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 1012 Tahun 2022. Beliau menggarisbawahi bahwa masa remaja adalah fase transisi fisik dan intelektual yang sangat krusial. Di tengah arus modernisasi, remaja dituntut tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga harus memiliki keseimbangan kualitas secara intelektual, spiritual, dan emosional agar tidak terjebak dalam arus kemalasan maupun pengaruh negatif lingkungan.

Dokumentasi sosialisasi BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah)

Aspek keselamatan remaja juga menjadi perhatian serius dengan hadirnya Bapak Prayetno yang membawakan sosialisasi pencegahan penyalahgunaan narkoba. Merujuk pada UU No. 35 Tahun 2009, ia mengingatkan bahwa Indonesia tengah berada dalam kondisi darurat narkoba. Secara farmakologis, zat adiktif tersebut dapat merusak masa depan melalui efek depresan hingga halusinogen, yang berujung pada kriminalitas, putus sekolah, hingga ancaman nyawa.

Melengkapi pembekalan tersebut, Ibu ST. Muzayannah memaparkan risiko nyata dari pernikahan dini yang kerap dipicu oleh faktor ekonomi maupun budaya. Beliau menegaskan bahwa pernikahan di usia sekolah berpotensi memutus akses pendidikan, memicu gangguan kesehatan mental, hingga memperbesar risiko perceraian. Edukasi ini menjadi penting agar para siswa memahami bahwa kematangan fisik dan finansial adalah kunci dalam membangun ketahanan keluarga di masa depan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang membawa harapan besar agar peserta mampu bertransformasi menjadi sosok ideal yang beretika, bertanggung jawab, dan toleran. Melalui semangat bahwa “pemuda adalah pemimpin masa depan”, bimbingan berkelanjutan seperti ini diharapkan mampu mencetak generasi emas yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam karakter.

Penulis:

Dwi Nur Shifa (X-2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *