LAYAR KENANGAN

Udara Desember di MA Pelita terasa berat, sudah hampir tiga bulan kelas XII IPS 2 penuh pertengkaran kecil yang tidak benar-benar selesai, mulai dari masalah tugas kelompok, salah paham, sampai hal-hal sepele yang membesar karena ego masing-masing. Wali kelas mereka, Bu Lestari, menatap kelasnya dengan khawatir. Anak-anaknya, yang dulu selalu ceria, kini terlihat asing satu sama lain.

“Minggu depan datang ke rumah saya, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.” Kata Bu Lestari tiba-tiba saat jam terakhir. Murid-murid saling menatap bingung. “Usahakan semuanya datang, jangan ada yang izin.”

Rasa penasaran mendorong mereka untuk pergi. Sore itu, angin membawa aroma rumput basah di halaman depan rumah Bu Lestari. Kelas XII IPS 2 berkumpul di halaman, duduk diatas karpet yang sudah disiapkan, kaki mereka menempel di rerumputan hijau yang lembab. Proyektor diatur menghadap tembok rumah, layar menyala. Foto-foto kelas X muncul: tawa polos, kerja bakti berantakan, lomba mading, olahraga kacau, dan momen-momen kecil yang dulu membuat mereka merasa seperti satu keluarga.

Beberapa murid pelan-pelan menunduk.

Video berganti ke kelas XI: jam istirahat di kantin, kegiatan ekstrakurikuler, hingga candaan kecil

Dan tepat setelah itu…

Layar menjadi hitam dengan tulisan:

“Kapan terakhir kali kalian saling menatap sebagai teman?”

Beberapa murid sudah mengusap mata diam-diam, berpura-pura menggaruk wajah. Ada yang menggenggam tangan sendiri, dan beberapa saling menatap.

Bu Lestari berdiri dihadapan mereka.

“Lihatlah, kalian dulu begitu dekat, bukan? Waktu kalian di sekolah ini tidak lama lagi. Tinggal satu semester sebelum kalian berpisah dan menjalani hidup masing-masing”

Beliau melihat satu persatu wajah mereka.

“Apakah kalian mau mengingat kelas XII IPS 2 sebagai kelas yang berakhir dalam diam dan marah?”

Tidak ada jawaban.

“Masalah itu wajar. Tapi jangan sampai membuat kalian kehilangan satu sama lain. Kalian tidak harus dekat, tapi tolong… Jangan jadi asing. Ibu ingin kalian menyelesaikan tahun terakhir ini dengan sesuatu yang tidak akan kalian sesali.”

Satu persatu murid mulai berbicara. Maaf diucapkan, senyum muncul, dan rasa canggung berubah menjadi hangat. Mereka mulai tertawa lagi, mengingat masa-masa mereka yang penuh canda.

Sebelum mereka pulang, Bu Lestari berkata:

“Semoga di semester depan kalian menemukan kembali alasan kenapa dulu kalian memilih untuk tetap bersama. Nikmati waktu yang tersisa dan bangun kenangan baru yang bisa kalian bawa sampai kapanpun.”

Mereka kembali ingat, bahwa sebelum pertengkaran, mereka pernah menjadi keluarga kecil.

Dan mungkin justru itu yang membuat langkah mereka terasa ringan untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

penulis:

Mufaridatul Khoiriyah (X-2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *