DARI KISAH ASING, MENUJU KISAH YANG TERTULIS
Suara burung pagi memenuhi udara, Ghea melangkah ke dalam kelas dengan hati yang ceria. Beberapa siswa sudah duduk di bangku masing-masing, dan Ghea segera menemukan tempat di barisan paling depan. Tak lama, seorang gadis berbaju sekolah lama dengan kacamata menghampirinya. “Hai, aku Clarin. Kamu Ghea, kan?” sapanya ramah. Ghea membalas senyum dan mereka pun mulai bercakap-cakap, berbagi cerita tentang asal sekolah dan impian mereka. Tak hanya Clarin, Ghea juga berkenalan dengan Vero, si ketua kelas yang supel, dan Zella, gadis pendiam yang ternyata sangat cerdas. Suasana kelas yang awalnya canggung, kini dipenuhi tawa dan obrolan hangat.
Hari itu, Ghea tidak hanya disibukkan dengan pelajaran. Setelah jam istirahat, seluruh siswa baru diwajibkan mengikuti kegiatan pengenalan ekstrakurikuler. Ghea yang memang gemar menulis, langsung tertarik dengan klub literasi. Karena Ghea berfikir bahwa dengan menulis kekuatannya akan menembus lini kehidupan. Ia juga merasa bahwa klub ini akan menjadi tempat yang tepat untuk berbagi ide dan kreativitas dengan teman-teman baru. Selain itu, Ghea juga memutuskan untuk ikut bimbingan bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Ia merasa bahwa ini akan sangat membantu dalam mencapai tujuannya. Kebersamaan dan semangat teman-teman di sana membuatnya merasa nyaman.
Sesuai dengan harapan Ghea dari kecil Sebuah sekolah yang sangat Ia impikan. Sekolah yang terkenal dengan kualitas pendidikan dan prestasi siswa-siswinya yang membanggakan. Ghea yakin bahwa dengan keaktifan memberikan ide dan kreativitasnya di MA Al Qudsiyah Ia akan menjadi siswa yang berprestasi memalui jalur tulisan dan kegiatan lain yang berbasis bahasa Inggris.
Sore harinya, Ghea pulang dengan hati penuh kebahagiaan. Ia tak sabar menantikan hari esok, untuk kembali menjelajahi dunia barunya di MA AI Qudsiyah dan mengikuti berbagai kegiatan menarik yang menanti.
penulis:
Lisa Rindi Antika (XI-2)
Claudy Bella Widyasari (XI-2)

