KEHENINGAN DITENGAH DERU NOTIFIKASI

Aku duduk termenung di bangku taman, menggenggam smartphone yang sudah tidak lagi menampilkan notifikasi baru. Deru kota yang biasanya memenuhi telingaku kini terdengar jauh, seperti suara ombak di pantai yang lembut.

“Hey, apa yang terjadi? Kamu terlihat seperti tersesat di awan,” kata Luna, temanku yang duduk di sebelahku.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku hanya merasa lelah, Lun. Semua ini terasa begitu banyak.”

Luna mengangguk paham. “Notifikasi, media sosial, pesan instan… kadang aku merasa seperti aku tidak bisa bernapas tanpa semua itu.”

Aku tahu apa yang dia rasakan. “Aku tahu apa yang kamu rasakan,” kata Luna. “Tapi terkadang aku merasa bahwa kita terlalu bergantung pada teknologi. Kita lupa bagaimana rasanya diam, bagaimana rasanya mendengarkan pikiran kita sendiri.”

Aku terdiam, memikirkan kata-katanya. Apakah benar aku telah kehilangan kemampuan untuk diam? Apakah aku telah menjadi budak teknologi?

“Kamu tahu, aku pernah membaca sebuah artikel tentang pentingnya keheningan,” kata Luna. “Penulisnya bilang bahwa keheningan dapat membantu kita menemukan diri kita sendiri, menemukan apa yang kita inginkan dalam hidup.”

Aku mengangguk, merasa seperti ada sesuatu yang menyentuh hatiku. “Aku rasa aku perlu jeda sejenak, Lun. Jeda dari semua notifikasi, dari semua kebisingan.”

Luna tersenyum. “Aku rasa kita berdua perlu itu.”

Kami berdua duduk diam sejenak, menikmati keheningan yang menyelimuti taman. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada suara kendaraan yang berlalu-lalang. Hanya suara angin yang berhembus lembut di antara pepohonan.

“Aku merasa lebih tenang sekarang,” kata Luna, memecahkan keheningan.

Aku mengangguk setuju. “Aku juga. Aku lupa bagaimana rasanya merasa damai seperti ini.”

Luna tersenyum. “Aku rasa kita harus melakukan ini lebih sering. Membuat jeda dari teknologi dan menikmati keheningan.”

Aku tersenyum kembali. “Aku setuju.”

Kami terus duduk di bangku itu, membiarkan matahari sore menyaring cahayanya melalui dedaunan pohon. Smartphoneku, yang masih ku genggam, kini terasa dingin dan asing. Bukan lagi sumber kegelisahan atau tuntutan, melainkan hanya sebongkah benda mati yang bisa kutaruh kapan saja.

penulis:

Siti Aminatus Zuhriyah (XI-1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *