KESEMPATAN YANG TIDAK HILANG
Sinar mentari mulai menerobos celah bangunan tinggi Madrasah Aliyyah Al Qudsiyah, dimana ada seorang siswa yang berdiri didepan papan pengumuman dengan jantung berdebar, dia adalah Elvano Alexander. Hari itu adalah hari pengumuman seleksi lomba karya ilmiah tingkat kota – kesempatan yang sudah ia tunggu sejak lama. Ia menelusuri satu per satu nama yang tertempel, berharap menemukan miliknya disana.
“Semoga namaku ada… ” gumamnya pelan.
Namun, harapannya runtuh. Namanya tidak ada. Lebih menyakitkan lagi, ia teringat satu kesalahan kecil: ia terlambat mengumpulkan berkas pendaftaran sehari. Kesempatan itu hilang bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena kelalaiannya sendiri.
“Kenapa aku bisa selalai itu… ” bisiknya lirih.
Sejak saat itu, Elvano dipenuhi penyesalan. Ia merasa telah mengecewakan dirinya sendiri. Hari-hari berikutnya terasa lebih berat. Setiap melihat teman-temannya mempersiapkan lomba, Elvano hanya bisa diam.
“Kamu nggak ikut lagi, El? ” Tanya temannya.
Elvano menggeleng pelan. “kesempatannya sudah lewat”.
Namun suatu sore hari, Elvano membuka kembali draft karya ilmiahnya. Ia membaca setiap halaman dengan perasaan campur aduk.
“Masih banyak yang bisa diperbaiki… ” ucapnya, mencoba jujur pada diri sendiri.
Ia menyadari bahwa kehilangan ini bukan hanya soal keterlambatan, tetapi juga kurangnya kesiapan. Dari situlah Elvano mulai berpikir berbeda.
“Kalau bukan sekarang, berarti aku harus siap untuk nanti, ” katanya mantap.
Ia mulai memperbaiki karyanya, belajar lebih disiplin dan mengatur waktunya dengan lebih baik.
Beberapa bulan kemudian, sebuah lomba serupa kembali dibuka. Kali ini, Elvano tidak terburu-buru, tetapi juga tidak menunda.
“Aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama, ” tekadnya saat hasil pengumuman keluar, Elvano tersenyum.
“Akhirnya…. Aku berhasil, ” ucapnya pelan.
Bukan hanya karena ia lolos, tetapi karena ia telah bisa membuktikan satu hal pada dirinya sendiri – bahwa kehilangan satu kesempatan bukan berarti segalanya berakhir.
Ia kini mengerti, kesempatan mungkin bisa hilang, tetapi harapan tidak pernah benar-benar pergi. Sebab patah bukan berarti kalah.
Dari pengalaman itu, Elvano menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Kesempatan yang hilang tidak harus disesali terlalu lama, tetapi dijadikan pelajaran untuk melangkah lebih baik. Ia belajar bahwa kedisiplinan, kesiapan dan ketekunan adalah kunci untuk meraih impian.
Kini, Elvano tidak lagi takut gagal. Baginya setiap kegagalan adalah cara hidup mengajarkan arti perjuangan. Karena pada akhirnya, yang benar-benar kalah adalah mereka yang berhenti mencoba, bukan mereka yang pernah patah.

penulis:
Livia Haniyatus Sa’adah (X-2)

