Di bawah lengkung langit yang satu, kita merayakan jamuan asmara,
Meletakkan asal-usul di atas meja, menukar tawa dalam beda bahasa.
Rambut keriting, kulit sawo matang, dan mata sipit adalah rima,
Menenun kisah yang ramai, karena serupa tak selamanya berirama.
Layaknya gamelan yang menabung nada-nada sunyi dalam logamnya,
Kita adalah deretan bunyi yang tak ingin saling memaksa.
Namun saat dipukul oleh jemari waktu secara bersamaan,
Perbedaan itu menjelma lagu, membasuh telinga dengan kedamaian.
Damai bukanlah tentang memadamkan warna demi satu rona yang pucat,
Tapi tentang memberikan ruang agar tiap cahaya tetap berpijar kuat.
Saling berbagi atap saat hujan, mencari teduh di bawah dahan yang rindang,
Memastikan setiap jiwa mendapat adem, tanpa ada yang merasa terbuang.
Andai nanti langkahmu goyah dan tersesat di persimpangan jalan,
Aku akan menunjuk arah tanpa memintamu mengubah jati diri sebagai jaminan. Sebab damai yang sejati hanya tumbuh subur di dalam pelukan,
Ketika perbedaan tak lagi dilawan, melainkan dirawat sebagai kawan.

penulis:
Galih Setyo Wibowo (XI-2)
