Hari itu, kelas X-2 dipenuhi cahaya matahari yang hangat. Bu Nanik, guru sejarah yang terkenal tegas tapi penuh ide kreatif, berdiri di depan kelas sambil menyalakan proyektor. Di tangannya, laptop terbuka, menampilkan layar putih dengan judul besar: “Proyek Hari Pahlawan: Jejak Digital.”
Anak-anak kelas X-2 menatap penasaran. Bu Nanik tersenyum tipis, matanya bersinar menandakan antusiasme yang jarang terlihat.
“Anak-anak, hari pahlawan tahun ini kita akan membuat proyek berbeda. Bukan poster maupun esai. Tapi video dokumenter.” Ujarnya pelan tapi jelas
Suasana kelas langsung heboh.
“Video dokumenter tentang apa, Bu?” Tanya salah satu murid.
“Tentang pahlawan lokal yang kisahnya hampir terlupakan,” jawab Bu Nanik. “Zaman sudah berubah. Kalau dulu perjuangan ditulis di kertas, sekarang kita punya cara lain. Kita bisa mewujudkan sejarah melalui jejak digital.
Murid-murid terbagi menjadi beberapa kelompok, mereka diberi waktu seminggu untuk mengerjakan tugas tersebut. Masing-masing kelompok mencari cerita tentang pahlawan yang kurang dikenal, baik di lingkungan sekitar maupun di keluarga mereka.
Salah satu kelompok dipimpin oleh Maya memulai pencarian dan bertanya pada warga sekitar sekolah. Tidak ada yang menyangka bahwa di gang kecil dekat pasar, tinggal seorang nenek bernama Nyi Sumarni, mantan pengantar logistik untuk pejuang kemerdekaan.
Nyi Sumarni menyambut mereka dengan senyum lembut. Suaranya serak, tetapi penuh keberanian ketika menceritakan masa lalunya.
“Dulu, saya pura-pura menjualan sayur. Padahal di bawah tumpukan kol, ada surat rahasia untuk para pejuang.
Risa, salah satu teman kelompok Maya mulai merekamnya dengan kamera ponsel. Tangan keriputnya bergetar saat memegang foto lama berisi wajah teman-temannya yang sudah tiada.
“Waktu itu saya takut, nak. Tapi kalau saya mundur, siapa yang akan meneruskan pesan itu?”
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Seminggu berlalu dengan cepat, hari presentasi tiba. Lampu kelas diredupkan, dan setiap kelompok memutar videonya. Ada dokumenter tentang mantan perawat medis, penjaga pos ronda yang dulu ikut mempertahankan kampung, hingga kisah pahlawan tak dikenal yang makamnya tersembunyi di dekat sawah.
Ketika video kelompok Maya diputar, suara Nyi Sumarni memenuhi ruangan. Ceritanya sederhana namun menyentuh.
Saat video selesai, murid-murid di kelas terdiam. Hanya terdengar hembusan nafas dan suara proyektor yang perlahan mati.
Bu Nanik tersenyum bangga. “Bagus anak-anak, kalian telah memberi mereka tempat di masa kini. Itulah kekuatan jejak digital. Merekam, menyimpan dan menyebarkan kisah-kisah ini adalah salah satu cara membangun masa depan yang gemilang.”
Video-video itu kemudian diunggah ke media sosial sekolah. Tak disangka, banyak orang menonton dan membagikannya. Warga sekitar mengirim komentar positif, dan keluarga Nyi Sumarni mengirim pesan terimakasih karena kisah beliau kini dikenang kembali.
Bu Nanik menatap layar laptopnya, tersenyum hangat. Baginya, ini adalah bukti bahwa perjuangan tidak selalu tentang angkat senjata. Kadang, perjuangan ada di balik kamera, keyboard dan di balik layar kecil yang memancarkan cahaya.

penulis:
Mufaridatul Khoiriyah (X-2)
