Sampai Jumpa di Puncak Mimpi

Sinar mentari membanjiri tangga sekolah MA Al Qudsiyah. Debu-debu beterbangan, tertiup angin sepoi-sepoi yg menerobos celah jendela. Di salah satu anak tangga, Ana duduk termenung, memandangi toga di tangannya. Hari ini hari terakhir bersekolah dan besok hari perpisahan sekolah, hari dimana kita merasa senang karena telah menuntaskan pembelajaran, namun juga hari yg menyedihkan karena kita berpisah dengan teman-teman.

“Rasanya baru kemarin aku masuk sekolah ini,” batin Ana. “Sekarang, semuanya sudah mau berakhir.”

Pikiran itu membuatnya sedikit sedih. Ia teringat berbagai kenangan indah bersama teman-temanya: ketika mereka bercanda di kelas, ketika mereka mengerjakan tugas bersama, ketika mereka berbagi cerita dan rahasia di kantin, ketika mereka dihukum bersama karna bolos pelajaran. Semua kenangan itu terasa begitu nyata, seperti baru terjadi kemarin.

Tiba-tiba beberapa teman akrabnya mendekatinya. Cindy salah satu teman akrabnya bertanya “Ngapain, An? Bengong aja”  sambil duduk di sebelahnya.

Ana menghela napas. “Nggak apa-apa, cuman lagi mikir aja”

“Mikir apa?”

“Mikir perpisahan ini. Sedih juga, ya. Setelah hari perpisahan kita udah nggak bareng-bareng lagi”

Cindy tersenyum. “Iya, tapi kan ini bukan akhir dari segalanya. Kita masih bisa kontak-kontakan, kita bisa ketemuan lagi kan.”

“Bener banget tuh kita masih bisa main bareng kalau sama-sama ada waktu.”  Sahut Gita

“Nah bener, tuh. Kita masih punya grup chat, kan? Kita bisa bercanda dan saling nanya kabar lewat grup chat loh.”  Meyla ikut menimpali.

Ana tersenyum sambil mengangguk pelan. “Benar juga, batinnya. Perpisahan ini bukan akhir. Ini hanya awal dari babak baru dalam hidup kita.”

Mereka semua terdiam sejenak, menikmati suasana yang cerah. Lalu, Meyla berkata. ” Kamu inget gak, Na? Ketika apel kemarin. pak Baidhowi bilang kalau perpisahan itu seperti koma, bukan titik. Artinya, cerita kita belum selesai. Masih ada bab-bab selanjutnya yg akan kita tulis bersama.”

“Benar, mari kita lanjutkan kemana arah kehidupan kita masing-masing. Dan tetap saling support satu sama lain.”  Kata Gita

Cindy mengangguk “Benar kata Gita, mari kita mengejar mimpi masing-masing dan bertemu kembali suatu saat nanti dengan versi kita yg lebih baik dari sekarang.”

Ana tersenyum, ia teringat kata-kata pak Baid itu. “Benar sekali, batinnya. Kelulusan ini bukan akhir, tapi awal dari petualangan baru. Aku akan melanjutkan pendidikan ke Universitas, mengejar cita-citaku, dan aku akan selalu mengingat masa-masa indah di MA Al Qudsiyah berama teman-teman terbaikku.”

Mereka berdiri, memandang lapangan sekolah yg ramai. Senyum menghiasi wajah mereka. Perpisahan memang menyedihkan, tapi mereka tahu, persahabatan mereka akan tetap abadi, melewati batas jarak dan waktu. Mereka akan tetap terhubung, saling mendukung, dan menciptakan kenangan baru di masa depan. Karena perpisahan, bukanlah akhir dari segalanya.

penulis:
Meyla Dinar Wulan Sari
Kelas XI-2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *