TUBAN — Pustaka Kembara Nusantara MA Al-Qudsiyah melaksanakan kegiatan literasi dan pembelajaran di luar kelas dengan mengunjungi Museum Kambang Putih Tuban, berziarah ke makam Sunan Bonang, serta mengunjungi bazar buku. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk menambah wawasan melalui pengalaman langsung sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah, budaya, dan literasi.
Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Museum Kambang Putih Tuban. Di tempat ini, peserta dapat melihat dan mempelajari berbagai peninggalan sejarah dan budaya yang tersimpan di museum. Beberapa koleksi yang menarik perhatian antara lain arca-arca kuno, arca Nandi, artefak Lingga dan Yoni, nekara, kalpataru, keramik kuno, uang kuno, serta berbagai peralatan kelautan dan nelayan tradisional. Museum juga memiliki koleksi yang berkaitan dengan sejarah Koes Plus, seperti foto dan kaset.

(Doc.Perkalanan Museum Kambang Putih
Salah satu koleksi yang menjadi perhatian adalah Kalpataru, yaitu peninggalan kayu berukir yang berasal dari kawasan makam Sunan Bonang. Koleksi tersebut memiliki nilai filosofi tentang kerukunan antarumat beragama.
Peserta juga memperoleh pengetahuan mengenai sejarah Tuban sebagai wilayah yang sejak dahulu memiliki hubungan erat dengan aktivitas perdagangan dan pelayaran. Hal tersebut terlihat dari banyaknya koleksi peralatan laut serta keramik dari berbagai wilayah yang tersimpan di museum.
Setelah mempelajari berbagai peninggalan sejarah di museum, perjalanan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Bonang. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengenal lebih dekat sosok Sunan Bonang sebagai salah satu Wali Songo sekaligus mengambil nilai-nilai keteladanan dari perjuangan beliau dalam menyebarkan ilmu dan ajaran Islam. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi bazar buku. Berbagai jenis buku yang tersedia menjadi kesempatan bagi peserta untuk menemukan bahan bacaan baru, menambah pengetahuan, dan memperkuat minat membaca.

(Doc.Bazar Buku Perpusda)
Melalui kegiatan Rihlah Pustaka ini, peserta mendapatkan pengalaman belajar yang beragam. Museum menjadi ruang untuk membaca sejarah melalui peninggalan masa lalu, ziarah menjadi sarana mengenal keteladanan tokoh agama, sedangkan bazar buku menjadi ruang untuk memperluas wawasan melalui bacaan.
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa literasi tidak hanya dilakukan dengan membaca buku, tetapi juga dengan membaca sejarah, mengenal budaya, memahami perjalanan para tokoh, dan menemukan pengetahuan dari setiap perjalanan.

Penulis: Claudy Bella Widyasari (XII-2)
