PENDIDIKAN DI TEPI REALITA

      Sejak duduk di bangku sekolah dasar, nama Aksa selalu berada di barisan teratas. Nilainya sempurna, pialanya berjejer, dan wajahnya kerap terpajang di mading sekolah. Guru-guru menyebutnya “masa depan bangsa”, sementara orang tuanya percaya bahwa pendidikan adalah jalan paling lurus menuju kehidupan yang lebih baik.

      Aksa tumbuh dengan keyakinan itu. Ia belajar keras, menghafal teori perubahan sosial, dan keadilan. Baginya, dunia adalah soal usaha dan kecerdasan. Siapa yang paling rajin dan pintar, dialah yang akan menang.

      Keyakinan itu mulai retak ketika Aksa lulus kuliah dengan predikat cumlaude. Ia mengirimkan puluhan lamaran kerja, mengikuti tes demi tes, wawancara demi wawancara. Nilainya selalu tinggi, jawabannya selalu tepat. Namun, satu per satu hasilnya sama: _kami akan menghubungi Anda kembali._

      Sementara itu, teman-temannya yang biasa-biasa saja justru lebih dulu mendapat pekerjaan karena orang tua mereka punya kenalan, karena rekomendasi, karena “jalur orang dalam”. Aksa mulai mempertanyakan semua yang ia pelajari. Buku-buku yang mengatakan dunia akan berubah oleh orang-orang terdidik terasa terlalu ideal. Ia sadar, dunia nyata tidak selalu memberi ruang pada yang paling pintar, melainkan pada yang paling punya akses.

      Aksa sempat marah pada sistem, pada dunia, bahkan pada pendidikannya sendiri. Tapi di tengah kekecewaan itu, ia memilih berhenti menunggu pengakuan. Ia mulai mengajar anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Bukan di sekolah bergengsi, hanya di teras rumah dengan papan tulis seadanya. Ia mengajarkan bukan sekadar pelajaran, tapi cara berpikir kritis, keberanian bertanya, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu adil.

     Aksa menyadari sesuatu, pendidikan memang tidak selalu mengubah dunia secara instan, tapi ia bisa mengubah cara seseorang memandang dan menghadapi dunia. Aksa bukan lagi “anak paling pintar” yang percaya dunia akan tunduk pada prestasi. Ia kini hanya seseorang yang paham bahwa pendidikan bukan senjata terkuat untuk mengubah dunia. Tetapi tanpa pendidikan, manusia bahkan tak sadar bahwa dunia perlu diubah.

Penulis: Mufaridatul Khoiriyah (X-2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *