Suara derit pena tua milik Mbah Broto menggema pelan di ruang tamu rumah panggungnya. Di sekelilingnya, tumpukan kertas kekuningan berisi bait-bait puisi bertema tanah air tersusun rapi. Puisi-puisinya indah, sarat akan elegi tentang ketimpangan sosial dan penderitaan rakyat kecil.
Rian, cucunya yang baru saja menyelesaikan kuliah di bidang Teknik Pertanian, duduk di ambang pintu sambil memandangi sang kakek.
“Puisi Mbah yang baru ini indah sekali,” ujar Rian pelan. “Bumi merintih minta dikasihani, menanti uluran tangan para pemberani.”
Mbah Broto tersenyum bangga seraya membetulkan letak kacamata tebalnya. “Kata-kata memiliki kekuatan, Rian. Pujangga adalah nurani sebuah bangsa yang sedang lupa.”
“Tapi, Mbah,” sela Rian lembut, namun tegas, “hama wereng di sawah Desa Sukamaju tidak akan mati hanya karena dibacakan puisi. Anak-anak petani di sana juga tidak bisa bersekolah hanya dengan menikmati metafora tentang masa depan.”
Mbah Broto tertegun. Penanya tertahan di udara.
“Indonesia sudah memiliki jutaan kata-kata indah,” lanjut Rian sambil berdiri dan menepuk debu di celananya. “Bangsa ini tidak membutuhkan sekadar pujangga yang diam mengutuk keadaan dari balik meja. Bangsa ini membutuhkan pemuda yang mau turun tangan, mengotori kaki dengan tanah, dan menyelesaikan masalah.”
Hari itu, Rian tidak membawa buku puisi. Ia membawa tas punggung berisi pestisida organik buatannya sendiri, pipa-pipa irigasi hemat air, serta beberapa modul pelatihan pertanian modern. Bersama tiga orang temannya, Rian memutuskan menetap di Desa Sukamaju—desa yang selama ini hanya menjadi objek keprihatinan dalam bait-bait puisi para kritikus kota.
Bulan-bulan pertama berjalan berat. Rian menghadapi penolakan dari warga yang skeptis, panas terik yang membakar kulit, hingga kegagalan panen di lahan percobaan pertama. Namun, ia tidak menyerah. Jika puisi Mbah Broto adalah ratapan tentang kekeringan, maka tindakan Rian adalah pacul yang menggali sumur. Ia mengajari para pemuda desa cara mengolah pupuk kompos, memperbaiki sistem drainase, dan memutus rantai ketergantungan pada tengkulak melalui koperasi digital.
Enam bulan berlalu.
Suatu sore, Mbah Broto datang berkunjung ke Desa Sukamaju dengan angkutan desa. Saat melangkah turun, matanya disambut hamparan sawah hijau yang membentang subur. Di balai desa, riuh suara anak-anak muda terdengar sedang belajar memasarkan hasil pertanian. Di tengah-tengah mereka, Rian berdiri dengan kaus lusuh yang dipenuhi lumpur, tersenyum lebar sambil membimbing seorang petani tua mengoperasikan aplikasi penjualan.
Mbah Broto berjalan mendekati cucunya. Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar kertas berisi puisi baru yang semula ingin ia bacakan hari itu.
Namun, ketika melihat keringat yang menetes dari dahi Rian dan tawa penuh harapan para petani, Mbah Broto perlahan meremas kertas puisi itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam sakunya.
Saat itu, ia menyadari satu hal: mahakarya terbaik untuk negeri ini tidak selalu ditulis di atas kertas putih dengan tinta hitam, melainkan diukir di atas tanah air melalui kerja keras dan kepedulian yang nyata.
“Rian,” panggil Mbah Broto.
Rian menoleh, agak terkejut melihat kakeknya berada di sana. “Mbah? Mau membacakan puisi untuk warga desa?”
Mbah Broto menggeleng, lalu tersenyum bangga sambil menyingsingkan lengan bajunya.
“Tidak. Tolong ambilkan Mbah satu pacul lagi. Hari ini, pujangga tuamu ini ingin belajar turun tangan.”
penulis:
Siti Aminatus Zuhriyah (XII-2)
