PADA BUSUR TIPIS YANG MENAMPUNG RINDU

Ada rindu yang mengendap di balik awan,

Tentang seulas senyum langit yang menawan.

Ia tak megah seperti purnama yang benderang,

Namun getarnya sanggup membuat badai jiwa tenang.

Saat ujungmu menyapa netra yang lelah,

Segala gundah di dada perlahan berubah cerah.

Engkau adalah isyarat kasih dari Sang Pencipta,

Bahwa dalam tipisnya cahaya, ada besar cinta yang bertahta.

Telah lama batin ini gersang dan merindu,

Mencari setitik teduh di tengah dunia yang semu.

Kehadiranmu bukan sekadar hitungan penanggalan,

Tapi pelukan gaib yang menghapus segala kegagalan.

Engkau melengkung indah bak busur doa,

Menembus batas langit yang penuh dengan dosa.

Membawa wangi kedamaian yang sulit dilukiskan,

Menyejukkan napas yang selama ini sesak tertahan.

Di bawah naungan cahayamu yang murni,

Aku belajar tentang sabar yang tak pernah mati.

Menunggu dalam gelap, menanti dalam sunyi,

Hingga fajar harapan kembali tegak berdiri.

Janganlah cepat memudar wahai tanda suci,

Berdiamlah sejenak di pelupuk mata yang mencari.

Sebab setiap jengkal cahayamu adalah obat, Bagi hati yang haus akan ampunan dan hidayat

Kini jiwa tak lagi gaduh mencari arah,

Sebab hilal telah membasuh luka hingga punah.

Dalam lengkungmu, kutemukan rumah yang syahdu,

Tempat berlabuhnya segala muara kerinduan yang satu

penulis: Mufaridatul Khoiriyah  (X-2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *