IBADAH DITINGKATKAN ZAKAT DITUNAIKAN
Langit sore itu merona jingga keemasan, memantulkan sisa cahaya matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala. Angin berembus pelan, membawa aroma gurih gorengan dan manisnya kolak dari dapur rumah-rumah warga. Di teras rumahnya, Zahrani duduk termenung. Matanya mengikuti gerak lincah anak-anak kecil yang sedang asyik bermain petasan kertas di ujung gang. Suasana syahdu ini menandakan bulan yang paling dinanti telah tiba: Ramadan yang suci.
Bagi Zahrani, Ramadan bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ia teringat pesan ustazahnya di sekolah, “Bulan ini adalah waktu terbaik untuk membasuh hati dari debu-debu iri, dengki, dan rasa malas.” Kalimat itu tertanam kuat di benaknya. Tahun ini, Zahrani bertekad melakukan transformasi diri. Ia ingin salat lima waktu tepat di awal waktu, mengkhatamkan Al-Qur’an, dan lebih rajin membantu Ibu menyiapkan hidangan sahur maupun berbuka. Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: tentang Zakat.
Suatu sore, saat ia dan ibunya tengah melipat mukena setelah salat Asar, Zahrani memberanikan diri bertanya. “Bu, kenapa sih kita harus membayar zakat? Bukankah kita sudah lelah berpuasa sebulan penuh?”
Ibunya tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Zahrani dengan penuh kasih. “Zahrani sayang, dalam setiap butir rezeki yang kita miliki, ada hak orang lain di dalamnya. Zakat itu ibarat air yang membersihkan harta kita, sekaligus sabun yang mencuci kotoran di hati kita agar tidak sombong.”
Kata-kata Ibu terus terngiang-ngiang. Zahrani tiba-tiba teringat Salwa, teman sekelasnya yang belakangan sering terlihat murung. Salwa pernah bercerita bahwa ayahnya sedang sakit keras dan tidak bisa bekerja. Seketika, Zahrani tersadar; zakat bukan sekadar kewajiban administratif agama, melainkan jembatan kepedulian bagi mereka yang sedang terjepit keadaan.
Esoknya di sekolah, penjelasan guru tentang Zakat Fitrah semakin memantapkan hatinya. Zakat harus ditunaikan sebelum takbir Idulfitri berkumandang agar kebahagiaan lebaran bisa dirasakan semua orang. Setibanya di rumah, Zahrani segera menuju kamarnya. Ia membuka celengan ayamnya dan menyisihkan sebagian uang tabungannya. Meski jumlahnya tidak seberapa, ia ingin ikut berkontribusi dalam pembayaran Zakat Fitrah keluarganya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya saat melihat uang itu terkumpul—rasa bahagia karena bisa ikut berbagi.
Ramadan kali ini terasa benar-benar berbeda. Di sela-sela tadarusnya setiap malam, Zahrani merasa jiwanya lebih tenang. Ia mulai belajar mengurangi keluhan, lebih sabar menghadapi tingkah adiknya, dan bicara dengan nada yang lebih lembut. Ia merasa “zakat” yang ia keluarkan bukan hanya berupa materi, tapi juga pembersihan sikap.
Menjelang akhir Ramadan, Zahrani menemani ayahnya mengantar kantong-kantong beras ke panitia zakat di masjid. Saat melihat senyum tulus para penerima zakat di sana, hati Zahrani bergetar. Ternyata benar, kebahagiaan yang didapat dari memberi tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi apa pun.

| penulis:Lailatul Fitriani (X-2 ) |

