CAHAYA MAAF DI AMBANG BULAN SUCI

Lampu kuning temaram menggantung di teras rumah tua itu, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa kabar tentang datangnya bulan mulia. Cahayanya yang redup tampak persis seperti sepuluh tahun lalu, saat Aris melangkah pergi dengan amarah yang membara, meninggalkan jejak luka yang barangkali tak pernah mengering di hati penghuninya. Kini, ia berdiri di depan pintu yang sama, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan melati yang mulai mekar—sebuah aroma ikonik desa di ambang Ramadan yang seketika menarik paksa kenangan masa kecilnya.

Di dalam, kesunyian malam dipecah oleh suara batuk kecil ayahnya, sebuah suara yang terdengar jauh lebih rapuh dari yang diingat Aris. Jemari Aris bergetar saat menyentuh gagang pintu yang dingin. Hatinya serupa samudera yang sedang dilanda badai; ada rasa malu yang membukit setinggi gunung, namun di saat yang sama, ada rindu yang telah meluap melampaui bendungan egonya. Besok lusa adalah satu Ramadan, sebuah gerbang suci di mana biasanya ia bersimpuh, memohon doa, dan mencium punggung tangan lelaki yang paling ia hormati itu.

“Siapa di luar? Angin malam tidak biasanya mengetuk pintu sekeras itu,” suara parau itu memecah hening, menyentak kesadaran Aris.

Dengan sisa keberanian yang terserak, Aris mendorong pintu perlahan. Engsel kayu yang berderit seolah ikut merintih menceritakan waktu yang hilang. Di atas kursi kayu jati yang sudah kusam, ayahnya duduk bersandar, jemarinya yang mulai berkerut nampak tekun merajut butiran tasbih. Saat mata mereka bertemu, Aris melihat senja yang meredup di mata sang ayah—ada keletihan luar biasa di sana, namun di balik itu, ada kilatan cahaya yang tak ia sangka: sebuah kelegaan yang murni.

“Ayah… Aris pulang,” bisiknya dengan suara yang tercekat di tenggorokan, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.

Tak ada ledakan amarah, tak ada caci maki atas pelarian panjang yang sia-sia. Ayahnya hanya meletakkan tasbihnya perlahan, lalu merentangkan tangan yang mulai gemetar—sebuah pelukan yang telah terbuka selama satu dekade tanpa pernah ditutup. “Cahaya bulan sabit sudah terlihat tadi sore, Ris. Tak elok kita memulai perjalanan puasa dengan hati yang gelap oleh dendam,” ucap ayahnya lembut, setiap katanya terasa seperti tetesan embun yang mendinginkan jiwa Aris yang gersang.

Aris ambruk, ia bersimpuh di lantai dan membenamkan wajahnya di lutut ayahnya yang kurus. Air matanya tumpah tak terbendung, meluruhkan kerak-kerak ego yang selama ini mengeras seperti batu. Di ambang bulan suci ini, maaf hadir bukan lagi sekadar susunan huruf, melainkan sebuah cahaya nyata yang menghangatkan ruang tamu yang semula terasa dingin dan sunyi.

“Maafkan Aris, Yah. Maafkan kesombongan Aris…”

Lelaki tua itu mengusap rambut anaknya dengan penuh kasih, seolah sedang menghapus seluruh dosa masa lalu. “Sudah, Ris. Semua luka sudah sembuh sebelum kau sampai di pintu tadi. Mari kita siapkan batin, karena lusa kita akan sahur bersama lagi di meja ini.”

Malam itu, di atas atap rumah tua, bulan sabit di langit tampak bersinar jauh lebih terang bagi Aris. Ia sadar, bukan karena cahayanya yang bertambah kuat, melainkan karena kegelapan di dalam hatinya telah sirna, digantikan oleh cahaya maaf yang tulus dan menghujam hingga ke sanubari.

penulis:Galih Setyo Wibowo  (XI-2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *